YuriLabs
  • Home
  • Project
  • All Series
    • Manga
    • Manhwa
    • Manhua
  • Adv. Search
Login Register
Prev
Novel Info
  • Home
  • Project
  • All Series
    • Manga
    • Manhwa
    • Manhua
  • Adv. Search
Yuri Tama

(LN) Yuri Tama: From Third Wheel to Trifecta

Chapter 1.6

  1. Home
  2. (LN) Yuri Tama: From Third Wheel to Trifecta
  3. Chapter 1.6
Prev
Novel Info

…Ya, setidaknya itu teorinya! Tapi di luar dugaan—dan juga akal sehat—mereka berdua malah jadi sahabat terdekatku sejak saat itu.

Dan maksudku bukan mereka punya hati seluas samudra yang bisa memperlakukan semua teman sama rata, berapa pun banyaknya! Mungkin sih mereka juga punya sifat kayak gitu, siapa tahu, tapi aku nggak punya cara buat ngeceknya karena satu fakta sederhana: mereka berdua, entah kenapa, ya…nggak terlalu berteman sama siapa-siapa. Bahkan, selama setahun mereka di SMA, cuma aku satu-satunya orang yang beneran mereka anggap teman.

Aku nggak ngerasa itu sengaja dari pihak mereka, lho. Bukan. Justru orang-orang di sekitar mereka yang bikin kayak gitu, apalagi mereka yang udah kenal dari SMP. Buat mereka, Momose dan Aiba itu ya Sacrosanct. Sesuatu yang suci dan murni, yang nggak boleh diganggu apalagi dinodai dalam keadaan apa pun.

Dan begitulah seterusnya. Nggak ada yang pernah berusaha nyelip di antara mereka. Bukan cuma nggak ada yang berani ngajak pacaran—bahkan cowok paling resek sekalipun—nggak ada yang berani deketin mereka sekadar teman. Orang dari klub olahraga kadang minta bantuan Aiba, ya, tapi Momose selalu ikut buat dukung, jadi bahkan itu pun nggak bisa misahin mereka berdua.

Kayak ada aturan nggak tertulis: nggak boleh ada yang lebih deket sama mereka dari yang lain. Kayak mereka karya seni di museum, dipagerin tali biar nggak ada yang bisa nyentuh—cuma bisa lihat dari jauh. Nggak ada yang berani lewatin garis batas itu. Nggak ada satu pun…kecuali satu orang…yaitu aku.

Jadi, di sinilah aku, sebulan masuk tahun kedua SMA, entah gimana caranya masih memonopoli pertemanan Sacrosanct. Padahal aku tahu itu nggak bener. Aku yakin para fans mereka nggak seneng sama aku—maksudku, di mata mereka, kayaknya aku udah langgar pakta nggak tertulis itu! Jujur, agak heran juga kenapa belum ada yang berusaha nyingkirin aku. Kayaknya udah waktunya ada, entahlah, semacam serangan, gitu.

Tolong, semuanya, percayalah aku nggak pernah punya niat buat nodai hubungan mereka berdua! Aku cuma nggak tahu waktu pertama kali masuk sekolah ini! Bukan cuma nggak tahu soal Sacrosanct, aku bahkan nggak tahu kalau yuri artinya cewek saling jatuh cinta! Aku nggak tahu itu dianggap sesuatu yang sakral atau berharga atau apa pun! Aku nggak tahu kalau nge-third-wheel pasangan yuri itu salah satu dosa besar!

“Aku! Nggak! Tahuuuuu!” teriakku, sia-sia, menggema ke langit di atas, nggak bakal pernah nyampe ke telinga siapa-siapa.

“Nggak tahu apa?”

*…Dan nggak nyampe ke telinga siapa-siapa katanya!!!!!!!!!* Rupanya, selagi aku kilas balik panjang lebar ke pertemuan pertamaku dengan Aiba dan Momose, mereka berdua udah beli es krim dan jalan balik ke tempatku! Y-Ya iyalah! Beli es krim kan bukan tugas seberat angkat gunung! Pasti cepet selesainya!

“Ini buat kamu, Yotsuba,” kata Aiba.

“Hah?”

“Es krimmu!” katanya sambil nyodorin cone isi soft serve swirl putih-cokelat ke arahku. “Kamu tadi dukung aku mati-matian, jadi ini sebagai ucapan terima kasih.”

“M-Makasih,” jawabku, agak sungkan. “Kamu yakin? Maksudku, aku tadi paling cuma bisa teriak ala kadarnya.”

“Nggak gitu. Percaya deh, aku denger kok, jelas. Aku seneng banget kamu juga dukung aku,” kata Aiba sambil nyengir. Denger itu dari dia, bikin aku merasakan hangat dan bahagia yang…spesifik banget.

“Aku beli cokelat, ya!” celetuk Momose.

“Kalau aku vanila,” tambah Aiba.

Berarti punyaku campuran punya mereka berdua, ya. Kayak dapet yang terbaik dari dua dunia tanpa ada efek sampingnya…atau mungkin aku kebanyakan mikir. Ya, pasti kebanyakan mikir.

“Ayo, Yotsuba, makan! Dinginnya enak, lho!” kata Aiba.

“Y-Ya,” gagapku, lalu jilat es krimnya. *Oh, wow, enak banget!* Manisnya vanila dan paitnya cokelat saling nge-complement dengan sempurna!

“Hehe!” Aiba terkekeh ngeliatin aku makan.

“Hah? A-Apa?!”

“Oh, nggak apa-apa. Kamu tadi makannya keliatan seenak itu, aku pikir lucu aja.”

“Apaan…?”

“Iya bener,” Momose nimbrung. “Kelihatan enak banget, aku sampai hampir malu ngeliatin! Mungkin aku harusnya beli campuran juga, ya?” tambahnya, ngelirik es krimku dengan iri.

Ekspresi mukanya imut banget, refleks aku nyodorin es krim ke dia kayak yang biasa aku lakuin ke adik-adikku. “Mau cobain?” tawarku.

“Hah? Boleh?” kata Momose, ragu bentar sebelum mukanya langsung cerah. “Mau dong!” Dia mendekat, gigit es krimku. “Mmm—enak!” serunya, yang menurutku agak lucu. Setengahnya kan rasa yang sama kayak punya dia, jadi kayaknya aneh aja dia sepenggemas itu.

“Eh, hei! Nggak adil, Yuna!” teriak Aiba. Kayaknya giliran dia yang iri sekarang.

Nggak terlalu di luar dugaan sih. Biasanya, kalau aku kasih sesuatu ke Momose, Aiba bakal agak cemburu. Begitu juga sebaliknya, Momose juga ngelakuin hal yang sama ke Aiba. Kayaknya itu udah semacam ciri khas sahabat masa kecil, ya. Kalau udah sedeket itu, kayak kalian satu jiwa, satu raga…eh, tunggu, itu sama ya maksudnya? Intinya, aku udah prediksi Aiba bakal gitu, makanya udah nyodorin es krim ke dia berikutnya. “Aiba juga! Silakan dicoba!”

“Ah…kamu nggak apa-apa?”

“Ya nggak apa-apa lah! Lagian ini kan traktiran kamu, iya kan? Aneh rasanya kalau aku sok-sok an minta izin!”

“Bukan aneh kok. Tapi…oke, aku cicip ya—kalau kamu yakin,” kata Aiba, mendekat agak malu-malu buat jilat es krimku. Matanya nempel terus ke wajahku selama itu, bikin aku agak canggung grogi. Setelah selesai, dia nawarin, “Mau cicip punyaku juga?”

“Ah, oke,” jawabku. “Makasih.”

“Ooh, ooh, terus kamu harus cicip punyaku juga!”

“Makasih, Momose!”

Aku kasih mereka es krim, aku dikasih es krim balik. Cuma duduk di sana dengan Momose dan Aiba di kiri-kananku, nikmatin sore, rasanya…apa, ya…*youthful*, gitu? Aku sih emang belum berani manggil mereka pake nama depan walaupun udah setahun kenal, dan aku juga nggak nganggep diriku setara sama mereka, tapi tetap, di detik itu rasanya kami beneran…ya, *teman*. Mau orang-orang di sekitar mikir apa pun tentang hubungan kami, itu nggak bakal ngerubah fakta bahwa buat aku, Momose dan Aiba adalah teman-teman berharga yang aku sayang. Itu bisa aku katakan dengan yakin…mungkin.

“Oh, iya—kita foto bareng yuk!” kata Momose.

“Setuju!” timpal Aiba. “Pakai HP aku aja.”

“Ayo, Yotsuba, merapat!”

Aku nyelip di antara mereka berdua sambil Aiba nge-stretch tangan pegang HP-nya. *Wow*, pikirku pas liat mereka di layar, *mereka berdua cantik banget, ya ampun.*

Pipi mereka nempel hampir rapet ke pipiku, entah gimana caranya aku bisa tetep kalem, tapi entah gimana juga raut mukaku keliatan senyum lebar banget. Itu bukti kalau, meskipun di dalam agak panik, dasar hatiku di saat itu tuh ngerasa bahagia murni.

Comments for chapter "Chapter 1.6"

MANGA DISCUSSION

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

Chapter 1.6
Fonts
Text size
AA
Background

(LN) Yuri Tama: From Third Wheel to Trifecta

695 Views 2 Subscribers

Yuna Momose dan Rinka Aiba memang ditakdirkan untuk bersama, dan seluruh sekolah mereka mengetahuinya. Antara keanggunan Yuna yang bak putri dan pesona Rinka yang bak pangeran, semua teman sekelas...

Chapters

  • Free
    Chapter 1.6
  • Free
    Chapter 1.5
  • Free
    Chapter 1.4
  • Free
    Chapter 1.3
  • Free
    Chapter 1.2
  • Free
    Chapter 1.1

Sign in

Lost your password?

← Back to YuriLabs

Sign Up

Register For This Site.

Log in | Lost your password?

← Back to YuriLabs

Lost your password?

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

← Back to YuriLabs

Premium Chapter

You are required to login first